Oleh: Herman Setyawan, M.Sc. (Arsiparis Muda-UGM)
Penggunaan kamper merupakan metode tradisional dalam preservasi material arsip. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kamper tidak direkomendasikan, sebagaimana beberapa studi berikut:
Collection Management Journal (2004) menuliskan terdapat studi tentang efek kapur barus pada kertas dan menemukan bahwa kapur barus menyebabkan perubahan warna, penggetasan, dan degradasi serat kertas yang signifikan dari waktu ke waktu.
Peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan kapur barus sebagai pembasmi hama di tempat penyimpanan arsip sebaiknya dihindari.
Journal of the American Institute for Conservation (2007) menyebutkan terdapat studi tentang penggunaan kapur barus di museum dan arsip, dan menemukan bahwa kapur barus dapat bereaksi dengan bahan lain di lingkungan untuk menciptakan senyawa berbahaya, seperti asam asetat, yang dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut terhadap koleksi.
Para peneliti merekomendasikan agar museum dan arsip menghindari penggunaan kapur barus di tempat penyimpanannya. The American Library Association's "Preservation Week" menjelaskan, mereka memperingatkan agar tidak menggunakan kamper yang tidak efektif dalam mengusir hama dan dapat menyebabkan kerusakan pada koleksi.
Nancy E. Kraft (2010), dalam artikelnya "Preserving Library Materials", dia menganjurkan untuk tidak menggunakan kapur barus, karena dapat merusak kertas dan bahan lain dalam koleksi perpustakaan.
Donia Conn dan Sherry Byrne (2014), dalam buku mereka "Preservation Planning: Guidelines for Writing a Long-Range Plan" menyarankan untuk tidak menggunakan kapur barus, dengan menyatakan bahwa ini bukan metode pengendalian hama yang efektif atau aman dalam penyimpanan arsip.
David Grattan (2005), dalam bukunya "Preservation in Libraries: Principles, Strategies, and Practices for Librarians", mencatat bahwa kapur barus dapat merusak kertas dan bahan lainnya, dan merekomendasikan metode pengelolaan hama alternatif yang lebih efektif.
Journal of Cultural Heritage (2014), sebuah studi menyelidiki dampak kapur barus pada sifat mekanik serat kapas, yang biasa digunakan dalam bahan arsip. Studi ini menemukan bahwa kapur barus menyebabkan kerusakan signifikan pada serat (termasuk kelenturannya).
Penulis menyimpulkan bahwa kapur barus tidak boleh digunakan dalam penyimpanan arsip karena dapat menyebabkan kerusakan permanen pada bahan koleksi.
Restaurator: International Journal for the Preservation of Library and Archival Material (2009), studi ini menemukan bahwa penggunaan minyak atsiri (essential olis) dan nitrogen lebih efektif dalam mengendalikan hama, dan tidak menyebabkan kerusakan pada bahan arsip.
Catatan, setiap repositori arsip mungkin memiliki kebutuhan dan persyaratan yang unik, dan penting untuk berkonsultasi dengan spesialis preservator atau konservator untuk menentukan metode pelestarian yang paling tepat untuk khazanah arsip. Salam Arsip





