Susuri Museum Trinil, Menyimpan Sejarah Penemuan Phitecantropus Erectus


Selain berziarah ke pesareane bapak yang wafat pada 5 Juni 2020 persis pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup se dunia, selama menjalani cuti saya manfaatkan untuk menyusuri museum bersehajarah di Ngawi Jawa Timur. 15 Mei 2022.

.

Selain berziarah ke pesareane bapak yang wafat pada 5 Juni 2020 persis pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup se dunia, selama menjalani cuti saya manfaatkan untuk menyusuri museum bersehajarah di Ngawi Jawa Timur. 15 Mei 2022.

Salah satu lokasi bersejarah yang paling fenomenal adalah Museum Trinil terletak di Desa Kawu Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi Jawa Timur.

Tulisan ‘Museum Trinil Ngawi’ berwarna orange menyambut keadatangan para pengunjung, selain itu gapura museum dengan latar belakang patung gajah purba berukuran raksasa dengan gading yang sangat panjang menghias pintu masuk Museum.

Museum Trinil merupakan wisata edukukasi sejarah manusia purba, sebab di Museum tersebut sebagai tempat penyimpanan fosil manusia kera berjalan tegak atau yang dikenal dengan Phitecantropus Erectus yang ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1891 sampai dengan tahun 1892.

Selain itu disitus ini juga ditemukan fosil banteng dan gajah purba yang sangat berguna bagi penelitian dan pendidikan khususnya dibidang sejarah kepurbakalaan.

Untuk menuju ke Museum Trinil sangatlah mudah, melalui jalur darat lebih kurang 13 km dari Kabupaten Ngawi dapat dicapai dengan segala jenis kendaraan bermotor.

Museum ini berdiri tepat ditepian sungai bengawan solo, dimana situs purbakalanya berada di tepian Sungai Bengawan Solo yang melintasi Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi.

Trinil ini salah satu situs purbakala yang diakui dunia. Museum yang berdiri di tahun 1991 dibangun oleh Eugene Dubois mempunyai fasilitas berupa Museum dan Pendopo peristirahatan, tempat cenderamata (souvenir), Diorama fosil purbakala lengkap dengan identitas dan dekskripsinya, Mushola dan arena bermain anak, Bumi perkemahan, Toilet dan kamar mandi.

Luas Museum 24.010 meter persegi, di sebelah timur, utara dan barat dikelilingi oleh aliran sungai bengawan Solo. Didalamnya menyimpan replika fosil manusia Pithecanthropus Erectus.

Terpajang estalase yang di dalamnya berisikan benda-benda fosil, diantaranya fosil tulang panggul gajah jenis Stegodon trigonochepslus, serta fosil tulang pengumpil gajah. Trinil sendiri merupakan kawasan di lembah Bengawan Solo yang menjadi hunian kehidupan purba, tepatnya zaman Pleistosen Tengah sekitar satu juta tahun lalu. Situs dibangun atas prakarsa dari Prof. Teuku Jacob ahli antropologi ragawi dari Universitas Gajah Mada.

Sejarah berdirinya Museum Trinil berawal dari penemuan fosil Pithecanthropus Erectus oleh Eugene Dubois, seorang pejabat kedokteran tentara kolonial Belanda.

Untuk memperingati kejadian tersebut, dibuatlah tugu berisi gambar anak panah dengan arah timur laut yang bertuliskan P.e 175 m. Dimana dari arah jarak itu bertempat di temukanlah bekas penggalian fosil Pithecanthropus Erectus yang berada di pinggir aliran bengawan Solo.Arti dari tugu itu adalah Pithecanthropus Erectus, 175 meter ke arah timur laut yang digunakan sebagai penunjuk arah tempat penemuan fosil.

Kedatangan kami disambut antusias petugas pos penjagaan sekaligus registrasi buku tamu, selanjutnya membayar karcis masuk museum. Dari keterangan petugas, Museum Trinil Ngawi buka pada hari Selasa sampai Minggu dan libur pada hari Senin.

"Seluruh Museum buka setiap hari Minggu sampai Selasa, khusus hari Senin saja museum di seluruh indonesia libur," jelas petugas pos penjagaan. Tiket masuknya pun ramah dikantong hanya membayar Rp. 3000 perorang, parkir motor tarifnya Rp. 1000.

Bagi pembaca yang penasaran akan sejarah Manusia Purba, silahkan berkunjung langsung ke Museum Trinil di Desa Kawu Kecamatan Kedunggalar

819 Views

Komentar