Massa Aksi PRP Tolak DOB dan Otsus Alami Kekerasan di Polres Nabire


Walaupun Ratusan massa aksi PRP yang ditahan dan di pukul sebelumnya di Mapolres Nabire oleh Kepolisian Nabire Papua. <br> <br>Massa aksi terus melakukan negosiasi dengan pihak keamanan sampai sekitar pukul 12:46 WP. Kemudian, Diarahkan ke kantor DPRD

.

tetapi dalam pengawalan yang ketat Oleh Polisi itu sendiri.

 

sekali lagi, Selama massa aksi PRP Wilayah Meepago dalam perjalanan menuju Kantor DPRD Kabupaten Nabire, saat itu dikawal ketat Oleh Polisi dengan menggunakan Mobil Shabara.

 

Setelah Massa Aksi Penolakan DOB dan Otsus Jilid II tiba di Kantor DPRD Kabupaten Nabire, beberapa jam kemudian, Massa Aksi yang tadinya ditahan dan dibawah ke Mapolres Nabire, diantar ke Kantor DPRD oleh polisi dengan menggunakan 4 Sabhara dan 1 truk biasa setelah di interogasi dan dipukul di Mapolres Nabire.

Baca Juga: Massa Aksi PRP Tolak DOB dan Otsus Alami Kekerasan di Polres Nabire

Penanggung jawab aksi PRP di Meepago Agus Tebai menjelaskan, Massa Aksi Petisi Rakyat Papua (PRP) yang ditahan dan dibawah ke Mapolres mengalami intimidasi dari pihak kepolisian Polres Nabire bahkan sebagian besar di interogasi dan Barang-barang milik mereka disiita oleh Polisi.

 

"Dari puluhan Massa aksi yang ditahan dan dipukul oleh polisi di Polres, barang-barang mereka juga disita. Rambut panjang juga di potong," jelasnya.

 

Lanjut Agus, yang sudah ditahan, sudah dibebaskan setelah di interogasi dan dipukul aparat kepolisian di Polres Nabire.

 

"Massa yang dapat tahan tadi siang, sudah dibebaskan, dibebaskan setelah di interogasi dan di pukul,"terangnya Tebai.

 

Selain itu, ditambahkan Frengky Pigome yang juga adalah korban Kekerasan dari aparat keamanan Polres Nabire, rombongannya di pukul dan disita barang bawahan mereka oleh polisi.

 

"Kami yang dapat tahan dan di bawah ke polres itu semua dapat pukul dari polisi, barang kami disita dan kami ditanya-tanya arti Penolakan DOB itu apa? Otsus dan, Referendum itu apa?," kata dia.

 

Yulius Goo yang adalah, kordinator lapangan di titik nol depan RSUD ini pun membenarkan, massa aksi depan RSUD dipaksa oleh Polisi harus naik ke mobil shabara sekitar pukul 07:00 WP. Kami dibawah ke Mapolres Nabire, sesampainya disana, kami di interogasi dan di pukul hingga babak belur. 

 

"Massa kami ditahan secara paksa dan dibawah ke Mapolres, dari polres, kami dipukul tidak manusiawi, semua barang kami diambil oleh polisi. Rambut yang panjang dipotong, gelang dan noken motif bendera bintang kejora Papua, diambil dan digunting," jelasnya Goo.

 

Marten Goo yang juga kordinator lapangan di Titik nol Wadio menyampaikan Senada dengan diatas, mereka ditahan secara paksa kemudian dipaksa naik ke Mobil Shabara Polres Nabire untuk dibawah ke Polres, tiba di Polres, kami dipukul dengan cara yang memang tidak humanis. Barang diambil semua. 

 

"Sebelum kami ke Titik kumpul, polisi sudah ada disana, begitu kami tiba, kami langsung dicekik leher, dipaksa ikut ke polres menggunakan Mobil Shabara. Barang kami diambil, peraga aksi dihancurkan," Ujarnya Marten.

 

 

Komentar