Aku menyebutnya, bahwa arsip-arsip usang itu lembaran sejarah yang terlupakan lalu terbuang begitu saja.
Tidak melulu kepada orang lawan jenis, terhadap benda mati seperti kertas bisa kita merawatnya sebagai kekasih.
Sebab arsip-arsip usang tadi merupakan sejarah peradaban manusia, mulai dari lahir, sekolah, kuliah, kerja lalu menikah, perceraian hingga kematian semua butuh yang namanya Arsip.
Tanpa Arsip sejarah itu seperti cerita kosong yang terlupakan. Arsip sendiri berupa rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Sedangkan kearsipan merupakan kegiataan yang berkenaan dengan arsip itu sendiri.
Lantas, apabila arsip tersebut terawat dengan baik, terawat kondisinya, sudah barang tentu arsip-arsip lawas itu terlihat awet, terhindar dari aroma apek yang disebabkan lembab termakan rayap.
Ku sapa dengan lembut penuh kesabaran tumpukan kertas usang dari masa ke masa itu, kertas-kertas tadi nampak begitu kegirangan membalas belaian mesra para pejuang memori bangsa mengawetkan sebuah sejarah.
Haru, mataku sendu, hanya mampu berkedip mengurai arsip-arsip terbengkalai kedinginan seorang diri.
Lentik jari berbalut kerutan kulit yang memulai menyatukan lembaran arsip-arsip lawas terserak diruang kosong tanpa udara.
Usai audit besar-besaran, arsip-arsip usang itu menyisakan noda tinta hitam dengan berbagai sumber informasi penting didalamnya, lembaran kertas usang tadi pernah mengukir indahnya aktivitas Kementerian atau Lembaga yang statusnya terlupakan.
Derap seribu langkah sang arsiparis, berjuang melawan partikel debu menata aksara demi aksara.
Setahun berganti, telah terlewati seorang diri, menata cerita saksi hidup sebuah Kementerian/Lembaga Negara.
Helai demi helai, dikumpul bersatu padu dalam sebuah kotak kardus terbungkus selimut tebal tertata rapi didalamnya.
Mataku mulai lelah, tak sejeli dulu dari segala yang nampak, tapi hati menangis mendata arsip-arsip pada sebuah kanvas digital, menuliskan kalimat-kalimat formal bernada kaku merayuku lalu bercumbu memadu ilmu.
Arsip-arsip usang itu kekasihku yang terlupakan lalu terbuang, ternyata engkaulah lembaran penting yang selama ini mereka cari-cari. Entah sampai kapan, rasanya tak akan rampung ku garap sendirian.
Namun begitu belum jua ada bala bantuan, apapun itu bentuknya.
Di kantor, juga di rumah aku peluk erat lembaran kertas itu di dekat meja berdampingan dengan komputer jinjing.
Agar terkenang dalam otak rentaku sesekali arsip-arsip lawas itu ku digitalisasikan.
Lebih dari itu, butuh waktu yang tidak sebentar untuk memahami perasaan arsiparis melawan sepi dan partikel debu yang menyakitkan pernafasan.
Dan butuh waktu yang lebih lama dari itu untuk menuntaskan tuntutan kinerja sebelum batas pengabdian mengakhiri.





