MESUJI— Tanggal 10 Mei 2025 menjadi penanda istimewa bagi Cheudin. Di usia yang terus menanjak, ia justru menyebut dirinya berkurang umur, bukan bertambah tua—sebuah filosofi hidup yang ia pegang teguh sejak menapaki jalan kesadaran diri pada tahun 1997.

Sejak itulah, Cheudin bukan hanya menjadi pelaku dalam perjalanan hidupnya, tetapi juga pengarah. Ia menyebut proses itu sebagai mikitabsi—membaca, mencatat, dan merefleksikan setiap langkah untuk menentukan nasibnya sendiri.
“Usia bukan soal angka yang bertambah, melainkan momen yang harus diolah maknanya. Sejak 1997, saya memilih untuk tidak sekadar berjalan di arus, tetapi menciptakan arah,” ujar Cheudin dalam pernyataannya hari ini. Senin [05/05/25]
Perjalanan hidup Cheudin bukan tanpa rintangan. Namun, dengan tekad untuk selalu sadar atas pilihan dan arah yang ditempuh, ia menjadikan setiap tantangan sebagai bahan bakar untuk tumbuh. Hari lahir baginya bukan perayaan, tetapi perenungan.
Di usia yang berkurang, Cheudin justru menambah keyakinan: bahwa setiap individu berhak menentukan nasibnya sendiri, selama ada keberanian untuk mengenali diri dan bertanggung jawab atas setiap keputusan.
Selamat memaknai perjalanan, Cheudin. Dunia mungkin berputar, tapi arah tetap milik mereka yang sadar. [Red]





