Buruh Indonesia: Dari Pejuang ke Penakut, Apa yang Salah?


Mayoritas Buruh seolah terborgol oleh Upah—dan Keluarga

.

LAMPUNG– Di tengah hiruk pikuk perayaan Hari Buruh Internasional, satu pertanyaan besar menggantung di udara: ke mana perginya nyali para buruh Indonesia?

 

Kini, mayoritas buruh seolah terborgol oleh upah—dan keluarga. Ketakutan kehilangan pekerjaan dan dihantam badai pemutusan hubungan kerja (PHK) membuat mereka memilih diam. Bersuara saja enggan, apalagi berpolitik. Menuntut kesejahteraan? Mimpi di siang bolong bagi sebagian besar dari mereka. Ketakutan itu bukan tanpa alasan, tapi tetap saja menyesakkan: buruh Indonesia telah menjadi tawanan sistem yang mereka jalani setiap hari.

 

Ironisnya, dalam diam itu, sering kali muncul pembualan. Semboyan-semboyan bombastis dilontarkan, namun nihil aksi nyata. "Solidaritas", "keadilan", "revolusi mental"—semua menjadi jargon yang kehilangan makna. Mereka menipu dirinya sendiri, seolah kalimat-kalimat itu bisa menggantikan perjuangan sejati.

 

Namun sejarah mencatat lembaran yang berbeda. Di awal abad ke-20 hingga 1965, buruh Indonesia bukan hanya pencari nafkah, mereka adalah motor perlawanan. Mereka menuntut upah layak, menolak kapitalisme, bahkan melawan kolonialisme. Mereka berorganisasi, berorasi, dan jika perlu, mengorbankan nyawa. Dan mereka juga punya keluarga—namun itu tak menghalangi perjuangan.

 

Lantas, apa yang membuat buruh masa kini kehilangan daya juangnya? Apakah zaman yang berubah, atau justru semangatnya yang menguap?

 

Ini bukan sekadar nostalgia. Ini ajakan untuk merenung dan menantang: masih adakah keberanian di dada buruh Indonesia hari ini?

 

 

[Cheudin Jurnalis: 05 Mei 25]

263 Views

Komentar