SEJARAH-Pada satu masa, aku sempat percaya bahwa kelas buruh telah kalah, hancur tanpa harapan. Tapi ketika kuingat kembali, semua itu tak jauh berbeda dari “persetujuan palsu” yang diberikan kepada komunitas kulit hitam: mereka boleh sukses—asal menjadi pelari, petinju, atau penghibur. Pilihannya sempit dan sudah ditentukan. Hari ini pun tak jauh berbeda—kesempatan yang diberikan hanya sebatas jadi bintang pop. Itulah yang kusampaikan dalam albumnya Working Class Hero.
Seperti yang pernah kukatakan kepada Rolling Stone, orang-orang yang berkuasa hari ini adalah orang-orang yang sama dengan dulu. Sistem yang bertumpu pada kelas sosial tak berubah sedikit pun.
Kaum revolusioner mesti mendekati buruh, sebab buruh tak punya daya untuk menghampiri mereka lebih dulu. Sayangnya, para mahasiswa pun belum benar-benar bangkit untuk menyatukan diri dengan saudara-saudara buruh mereka.
Kita hidup dalam masyarakat yang kehilangan arah sejarah. Tak ada panutan, tak ada jejak yang bisa dijadikan pegangan. Karena itu, kita harus berani mendobrak pola-pola lama.
Setelah revolusi, perjuangan belum selesai. Justru tantangan baru dimulai: bagaimana mempertahankannya? Bagaimana menyaring beragam pandangan dan tetap bersatu? Perbedaan pendapat adalah bagian dari dialektika perjuangan—itu sehat dan wajar. Tapi kita harus tetap satu dalam menghadapi musuh bersama dan membangun masyarakat yang baru. Mao, aku kira, memahami betul dilema ini dan mencoba menjaganya agar tetap berjalan.
Dan jangan lupakan kaum perempuan. Tak akan ada revolusi sejati tanpa keterlibatan dan pembebasan perempuan. Butuh waktu lama bagiku untuk menyadari bagaimana maskulinitasku menutup ruang bagi Yoko. Dia seorang pembebas sejati—tanpa ragu menunjukkan kesalahanku. Itu membuka mataku: bagaimana seseorang yang menyebut dirinya “radikal” memperlakukan perempuan adalah ujian yang sesungguhnya.
Kita hanya bisa menghancurkan ilusi yang membelenggu kelas buruh dengan membangkitkan kesadaran mereka. Mereka terbuai dalam mimpi palsu—seolah hidup di negeri yang bebas, punya mobil, bisa bicara semaunya. Tapi realitasnya? Mereka diperas, anak-anak mereka terbengkalai, dan mereka bahkan tak sadar bahwa mimpi yang mereka kejar bukanlah milik mereka.
Jika mereka sadar akan ketidakadilan yang dialami komunitas kulit hitam, orang Irlandia, dan akhirnya diri mereka sendiri—saat itulah kelas buruh bisa bangkit dan mengambil alih. Seperti kata Marx, “Dari masing-masing menurut kemampuannya, untuk masing-masing menurut kebutuhannya.” Aku yakin ini bisa terwujud di sini. Tapi kita juga harus menyusup ke tubuh militer—karena mereka dilatih untuk melawan kita.
Perjuangan dimulai dari titik kita sendiri tertindas. Memberi bantuan sementara kebutuhan kita sendiri belum terpenuhi adalah pendekatan yang keliru. Tujuannya bukan membuat orang merasa lebih nyaman, tapi justru membantu mereka menyadari penderitaan dan penghinaan yang mereka terima dalam sistem ini.
Pada dasarnya, dunia ini dihuni oleh dua jenis manusia: mereka yang percaya diri karena tahu mereka mampu mencipta, dan mereka yang telah patah semangat karena dijejali kebohongan bahwa mereka tak mampu, kecuali taat. Kekuatan mapan tumbuh dari mereka yang tak sanggup bertanggung jawab dan tak bisa menghargai dirinya sendiri.
[Sumber: Catatatan Jhon Lenon. Penulis: Udin]





