Angin sepoi-sepoi bertiup di siang hari ini. Tampak matahari sudah condong mulai turun semakin menghilang dari bumi. Tampak seorang pemuda berpakaian kemeja lengan panjang berjalan luntai di keremangan senja itu. Lengan Bajunya di lipat hingga ke pangkal siku. Sebahagian kancing baju kemeja putih yang dipakainya dibiarkan terlepas. Kemeja kombrang terurai itu ditiup angin hingga tampak lapisan baju kaos dalam merah dengan tulisan bentuk elephant berwarna putih “TAK SEKABUT SENANDUNG RINDU”. Lelaki itu langsung menuju ke sepeda motor berwarna merah hasil modifikasinya. Rambutnya sedikit berkriting , kuncrit panjang di belahan belakang dibiarkan berjuntai hingga sebatas pinggang. Mukanya semakin tampak lonjong karena rambut belahan samping kepalanya tipis sekali.
“Nita Numpang Bang,”suara wanita sambil berlari lari kecil menghampiri pemuda tersebut.
“Boleh,namun Nita harus pegang erat-erat,”sahut pemuda tersebut menggoda.
“Ah bisa aja bang Arcon ini....???,”ucap wanita bernama Nita itu sambil mencubit pelan ke pinggul Arcon.
“Emang Nita hendak kemana...???,”tanya Arcon dengan penuh selidik.
“Nita hendak les bang.....? soalnya ngak lama lagi Nita Ujian Nasional trus ikut seleksi tes perguruan tinggi,”tuturnya.
“Doa khan Nita bisa masuk perguruan tinggi negeri ya bang...????,”ucapnya.
“Boleh...., asal Nita rajin belajar dan semangat ikut les,”tuturnya Arcon memberi semangat kepada Nita.
“Nita les dimana...????,”ujar Arcon kemudian.
“Nita ikut les di jalan Pahlawan bang....!!!,”ucap Nita menjelaskan.
“Ayo .....cepatlah.....soalnya abang dah terlat nih....!!!,”ujar Arcon sambil menstarter kenderaan merk hondanya.
Arcon Lakawa, Pemuda berambut kuncrit mengendarai sepeda motor modifikasi menuju ke jalan Pahlawan bersama Nita Carolina. Nita masih kelas XII di SLTU, Ia tampak sumringah duduk boncengan di belakang Arcon. Dia pegang erat-erat pinggang Arcon, seperti permintaan Arcon. Nita wanita berbadan sedang dengan rambutnya terurai panjang hingga pinggang. Nita adalah putrinya pak Soleh, pria bekerja sebagai pemulung. Pak Soleh setiap hari bekerja mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual kembali. Hasil tersebut hingga kini menghidupi keluarga dan biaya sekolah Nita. Nita tahu ayahnya seorang pemulung. Oleh sebab itu dia rajin belajar di sekolah untuk memperoleh pencapaian maksimal. Dia ingin lulus seleksi di perguruan tinggi hingga meraih gelar sarjana. Nita pun tahu ayahnya mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Nita tahu ayahnya selalu bekerja meskinpun dalam keadaan tidak sehat.
Nita, seorang putri yang tahu terhadap perjuangan orang tuanya sebagai pemulung. Kendati sebagai putri seorang pemulung, pengepul barang-barang bekas, namun dirinya tidak malu. Meskinpun teman-temannya acap menyindir dirinya. Bahkan dia bangga dengan usaha dan semangat ayahnya tersebut. Oleh sebab itu dia tidak mau sia-siakan waktu belajarnya. Akhirnya perjuangan Nita membuahkan hasil. Nita selalu menjadi juara kelas, bahkan juara umum di sekolahnya.
Sedangkan Arcon, Ia anak seorang pejabat teras di daerahnya. Bapaknya bernama Arlan sebagai pimpinan daerah. Ibunya bernama Conikawati seorang usahawati. Gabungan nama kedua orang tuanya itulah akhirnya tercetus nama dirinya, Arcon Lakawa. Arcon berasal dari nama depan kedua orang tuanya yakni Ar dan Con. Sedangkan Lakawa gabungan nama belakang kedua orang tuangnya yakni Lan dan kawati.
Arcon Lakawa saat ini sedang cuti kuliah. Dia kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Pahlawan Surabaya. Meskinpun kedua orang tuanya termasuk mampu, namun Arcon tidak memilih teman dalam pergaulan. Dia bahkan sering bergabung dengan pemuda-pemuda tempatan. Meskinpun kehidupan orang tua pemuda tempatan tersebut masih dibawah dari kemewahan yang dia dapat dari orang tuanya.
“Abang pingin cepat-cepat, emangnya abang hendak kemana...????,”tanya Nita membuka suasana yang sejak dari tadi hanya diam.
“Abang hendak singgah ke mesjid, bertemu dengan teman-teman sekaligus melakukan sholat,”jelas Arcon kemudian.
“ooh...???!!!,”ucap Nita seakan mengerti penjelasan dari Arcon.
“Sini ajah Bang Arcon...!!! Nita turun disini, di persimpangan ini,” kata Nita Persis di depan cafe natural di persimpangan empat Jalan Bahagia dan JalanPahlawan.
“Makasih ya bang...!!!,”tutur Nita sambil turun setelah kenderaan yang di kendalikan Arcon berhenti.
“Da...dah Bang....!!!!,”ujar Nita dengan nada suara setengah menghilang.
Cahya mentari sudah semakin condong. Tampak bayang-bayang sosok mengikuti kemana sosok wanita tersebut berjalan. Dia berjalan santai sambil memegang tas yang di sandangnya. Rambutnya tergurai diterpa angin. Raut mukanya cerah, sekali-kali bibirnya tersenyum. Entah apa yang ada di benak fikirannya setelah turun dari kenderaan Arcon. Seingatnya, Arcon telah lama tidak tampak olehnya. Arcon Lakawa sudah kuliah di kota pahlawan Surabaya. Sejak itu Nita tidak pernah lagi ketemu dengan Arcon. Padahal Arcon selalu membuat dirinya riang, menghibur hatinya ketika sedang galau.
“Nita , Abang di terima di Fakultas Teknik Sipil ITS Surabaya,”ujar Arcon membuka suasana lagi.
“Lalu abang Tinggallin Nita di Bagansiapiapi ...???,”suara Nita lirih semakin pelan.
“Gak....dong....!!!Nanti jika cuti abang balik ke Bagansiapiapi,”tuturnya Arcon meyakinkan Nita.
“Nita belajar yang rajin aza...???nanti kita bisa sama-sama kuliah di Surabaya,”jelas Arcon kemudian.
Wajah Nita Carolina tampak melayangkan senyum simpul. Dia mengingat-ingat pembicaraan dirinya dengan Arcon ketika itu. Angin berhembus perlahan, daun pokok pinang melambai lambai. Alunan nada syair “belimbuk kita belimbuk” terdengar sayup-sayup. Belimbuk di pinang dao, pinang dao kampung cik sauti, cik sauti uyang tanah putih.
Rasa rindu belum tersampaikan sepenuhnya membuat Nita Carolina tersenyum sendiri. Mentaripun sudah semakin condong rebah di bumi belahan barat. Senandung belimbuk bernada ria tidak diindahkan lagi oleh Nita. Mungkin Dia lebih merasakan dirinya sedang menikmati rasa rindu. Ketemu Arcon setelah lama tidak bersua. Tak sekabut senandung rindu. (***)





