Banyuwangi - Adanya pemberitaan beberapa media online terkait proyek pengerjaan Breakwater akhir-akhir ini, membuat Koordinator Instalasi Pelabuhan Perikanan Pantai (IP3) Grajagan angkat bicara. Di depan awak media, pria yang ditempatkan sebagai pejabat Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur ini mengaku belum pernah menerima surat tembusan terkait pengerjaan Breakwater yang berada di wilayah kerjanya, Kamis (28/10/2021).
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Akhmad Supriyono selaku koordinator saat ditemui wartawan di kantornya Instalasi Pelabuhan Perikanan Pantai (IP3) Grajagan. Selain memberikan penjelasan ke wartawan, pada kesempatan ini Supriyono juga menjelaskan ke Camat Purwoharjo Ahmad Laini yang datang menanyakan terkait keberadaan Proyek Breakwater yang ada di Pelabuhan Grajagan.
"Saya saja yang berkantor disini tidak tahu menahu, makanya ketika pak Camat datang, beliau saya persilahkan untuk menanyakan langsung dengan pihak kontraktor," tegasnya.
Masih di dalam ruang kerjanya, Supriyono juga mengatakan hingga detik ini dirinya belum pernah mengetahui ada sosialisasi dari pihak CV yang mengerjakan. Padahal di dalam RAB jelas-jelas tertulis bahwa ada anggaran untuk biaya sosialisasi, promosi, dan pelatihan sebesar 14.300.000. Yang jadi pertanyaan, dikemanakan anggaran tersebut sedangkan sosialisasi dari pihak CV tidak pernah melaksanakan. Mirisnya lagi, hingga berita ini ditayangkan, tidak satupun dari jajaran Forpimka Kecamatan Purwoharjo mendapat surat tembusan SPK dari pihak kontraktor.
"Memang katanya sempat ada sosialisasi proyek Breakwater Pelabuhan Grajagan, tapi saat kegiatan itu berlangsung saya tidak ada ditempat. Infonya waktu kegiatan tersebut tidak dihadiri oleh jajaran Forpimka Purwoharjo. Saat saya tanya ke salah satu pelaksana proyek, katanya mau didatangi langsung satu persatu, dan disitulah saya mulai rasakan ada kejanggalan," tambah Supriyono.
Pada pertemuan di kantor IP3 Grajagan pada hari Rabu kemarin (27/10/2021), dua orang pekerja proyek yang mengaku bernama Tholib dan Supri datang mewakili pihak kontraktor. Namun saat ditanya, soal surat-surat terkait pengerjaan proyek tersebut malah mengaku tidak bisa menunjukkan. Bahkan ketika Pak Ahmad Laini selaku Camat Purwoharjo meminta untuk di telponkan pemilik CV yang mengerjakan proyek Breakwater ini, Tholib dan Supri malah mengatakan harus ada surat permohonan tertulis dulu untuk bertemu dengan pimpinan perusahaan mereka.
"Saya minta bapak bikin surat tertulis minta untuk bertemu dengan pimpinan perusahaan, nanti saya sampaikan suratnya," kata Supri.
Sementara itu, dari pengakuan Tholib menyebutkan kalau pemilik perusahan kontraktor tersebut yang mengerjakan Breakwater ini bernama Putri dan suaminya Angga.
"Pemilik perusahaannya namanya Putri dan yang sering datang kesini pak Angga suaminya," ucapnya.
Supri pelaksana proyek yang juga mengaku dari lulusan salah satu perguruan tinggi ternama tersebut juga bungkam saat ditanya soal tambang batu yang mensuplai proyek Breakwater tersebut. "Kalau urusan batu suplayer dan tambangnya setahu saya milik pak Ivan yang berada diwilayah Kecamatan Kabat," pungkasnya.
Awak media juga mendapatkan informasi dari sumber lain jika material batu itu didatangkan dari tiga tambang berlainan hanya saja tetap mengatasnamakan Ivan. (Hariyono)





